|
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN
2007
Ditetapkan tanggal 2 Januari 2007
FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK
PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU
DI DAERAH-DAERAH
TERTENTU
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA,
Menimbang :
-
bahwa investasi langsung baik melalui
penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri merupakan salah satu
faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan
percepatan pembangunan untuk bidang-bidang usaha tertentu dan/atau daerah-daerah
tertentu;
-
bahwa berdasarkan Pasal 31A Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, kepada Wajib Pajak yang
melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di
daerah-daerah tertentu dapat diberikan fasilitas Pajak Penghasilan;
-
bahwa Peraturan
Pemerintah Nomor 148 Tahun 2000 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk
Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu Dan/Atau Di Daerah-Daerah
Tertentu sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan dan perkembangan keadaan, oleh
karena itu perlu diganti;
-
bahwa berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan
Peraturan Pemerintah tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal
di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu;
Mengingat :
-
Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
-
Undang-undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3984);
-
Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3263) sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor
127, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3985);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
PERATURAN PEMERINTAH
TENTANG FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA
TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH TERTENTU.
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang
dimaksud dengan :
-
Penanaman Modal adalah investasi
berupa aktiva tetap berwujud termasuk tanah yang digunakan untuk kegiatan utama
usaha, baik untuk penanaman modal baru maupun perluasan dari usaha yang telah
ada.
-
Aktiva tetap berwujud adalah aktiva
berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang diperoleh
dalam bentuk siap pakai atau dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi
perusahaan, tidak dimaksudkan untuk diperjualbelikan atau
dipindahtangankan.
-
Perluasan dari usaha yang telah ada
adalah suatu kegiatan dalam rangka peningkatan kuantitas/kualitas produk,
diversifikasi produk, atau perluasan wilayah operasi dalam rangka pengembangan
kegiatan dan produksi perusahaan.
-
Bidang-bidang usaha tertentu adalah
bidang usaha di sektor kegiatan ekonomi yang mendapat prioritas tinggi dalam
skala nasional.
-
Daerah-daerah tertentu adalah daerah
yang secara ekonomis mempunyai potensi yang layak dikembangkan.
Pasal 2
|
(1)
|
Kepada Wajib Pajak badan dalam negeri
berbentuk perseroan terbatas dan koperasi yang melakukan penanaman modal pada
:
|
|
|
a.
|
bidang-bidang usaha tertentu
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Pemerintah ini;
atau
|
|
|
b.
|
bidang-bidang usaha tertentu dan
daerah-daerah tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan
Pemerintah ini,
|
|
|
dapat diberikan fasilitas Pajak
Penghasilan.
|
|
(2)
|
Fasilitas Pajak Penghasialn
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :
|
|
|
a.
|
pengurangan penghasilan neto sebesar
30% (tiga puluh persen) dari jumlah Penanaman Modal, dibebankan selama 6 (enam)
tahun masing-masing sebesar 5% (lima persen) per tahun;
|
|
|
b.
|
penyusutan dan amortisasi yang
dipercepat, sebagai berikut :
|
|
|
|
|
Kelompok Aktiva Tetap
Berwujud
|
Masa Manfaat Menjadi
|
Tarif Penyusutan dan Amortisasi
Berdasarkan Metode
|
|
Garis Lurus
|
Saldo Menurun
|
|
I.
|
Bukan Bangunan :
|
|
|
|
|
|
Kelompok I
|
2 Tahun
|
50%
|
100% (dibebankan
sekailgus)
|
|
|
Kelompok II
|
4 Tahun
|
25%
|
50%
|
|
|
Kelompok III
|
8 Tahun
|
12,5%
|
25%
|
|
|
Kelompok IV
|
10 Tahun
|
10%
|
20%
|
|
|
|
|
|
|
|
II.
|
Bangunan :
|
|
|
|
|
|
Permanen
|
10 Tahun
|
10%
|
-
|
|
|
Tidak Permanen
|
5 Tahun
|
20%
|
-
|
|
|
|
c.
|
pengenaan Pajak Penghasilan atas
dividen yang dibayarkan kepada Subjek Pajak Luar Negeri sebesar 10% (sepuluh
persen), atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak
Berganda yang berlaku; dan
|
|
|
d.
|
kompensasi kerugian yang lebih lama
dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun dengan ketentuan
sebagai berikut :
|
|
|
|
|
1)
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila penanaman modal baru pada
bidang usaha yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan di kawasan
industri dan kawasan berikat;
|
|
2)
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila mempekerjakan
sekurang-kurangnya 500 (lima ratus) orang tenaga kerja Indonesia selama 5 (lima)
tahun berturut-turut;
|
|
3)
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila penanaman modal baru
memerlukan investasi/pengeluaran untuk infrastruktur ekonomi dan sosial di
lokasi usaha paling sedikit sebesar Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah);
|
|
4)
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila mengeluarkan biaya penelitian
dan pengembangan di dalam negeri dalam rangka pengembangan produk atau efisiensi
produksi paling sedikit 5% (lima persen) dari investasi dalam jangka waktu 5
(lima) tahun; dan/atau
|
|
5)
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila menggunakan bahan baku dan
atau komponen hasil produksi dalam negeri paling sedikit 70% (tujuh puluh
persen) sejak tahun ke 4 (empat).
|
|
|
(3)
|
Menteri Keuangan menerbitkan
keputusan pemberian fasilitas Pajak Penghasilan setelah mempertimbangkan usulan
dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman
Modal.
|
Pasal 3
Wajib Pajak yang mendapat fasilitas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), sebelum lewat jangka waktu 6 (enam)
tahun sejak tanggal pemberian fasilitas tidak boleh :
-
menggunakan aktiva tetap yang
mendapatkan fasilitas untuk tujuan selain yang diberikan fasilitas; atau
-
mengalihkan sebagian atau seluruh
aktiva tetap yang mendapatkan fasilitas kecuali aktiva tetap yang dialihkan
tersebut diganti dengan aktiva tetap baru.
Pasal 4
Apabila Wajib Pajak yang telah
mendapatkan fasilitas tidak memenuhi ketentuan Pasal 3, maka :
-
fasilitas yang telah diberikan
berdasrkan Peraturan Pemerintah ini dicabut;
-
terhadap Wajib Pajak yang
bersangkutan dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan yang berlaku; dan
-
tidak dapat lagi diberikan fasilitas
berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 5
|
(1)
|
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini
akan dievaluasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun sejak Peraturan
Pemerintah ini ditetapkan.
|
|
(2)
|
Evaluasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan oleh Tim monitoring dan evaluasi yang dibentuk dengan
Keputusan Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian.
|
Pasal 6
Wajib Pajak yang telah memperoleh
fasilitas perpajakan atas kegiatan usaha di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu
(KAPET) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun
2000 tentang Perlakuan Perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemeritnah Nomor
147 Tahun 2000, maka atas kegiatan usaha tersebut tidak lagi diberikan
fasilitas perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah
ini.
Pasal 7
Ketentuan lebih lanjut yang
diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 8
Pada saat Peraturan Pemerintah ini
mulai berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor 148 Tahun
2000 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di
Bidang-bidang Usaha Tertentu dan atau di Daerah-daerah Tertentu (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 265 Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4066), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 9
Peraturan Pemerintah inimulai berlaku
sejak tanggal 1 Januari 2007.
Agar setiap orang mengetahuinya,
memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia.
|
Diundangkan di Jakarta
pada
tanggal 2 Januari 2007
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI
MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA
AD INTERIM,
ttd.
YUSRIL IHZA MAHENDRA
|
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal
2 Januari 2007
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG
YUDHOYONO
|
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2007 NOMOR 1
Salinan sesuai dengan
aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Peraturan
Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,
ttd.
M. SAPTA MURTI, SH., MA,
MKn
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN
PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TENTANG 2007
FASILITAS PAJAK
PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL
DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU
DAN/ATAU
DI DAERAH-DAERAH TERTENTU
-
UMUM
Dalam rangka mendorong
pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan percepatan pembangunan di
daerah tertentu, pendalaman struktur industri, mendorong penanaman modal asing
dan penanaman modal dalam negeri di bidang-bidang usaha tertentu dan atau
daerah-daerah tertentu, kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal atau
perluasan modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau daerah-daerah tertentu
tersebut dapat diberikan fasilitas Pajak Penghasilan.
-
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup
jelas.
Pasal 2
Ayat (1)
Fasiltias Pajak Penghasilan sebagaimana
diatur dalam Peraturan Pemerintah ini hanya dapat diberikan kepada wajib pajak
berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan Koperasi yang melakukan penanaman modal
pada bidang usaha sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I dan Lampiran II
Peraturan Pemerintah ini.
Penanaman modal pada bidang-bidang usaha
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I dapat dilakukan di seluruh wilayah
Indonesia sedangkan penanaman modal pada bidang-bidang usaha sebagaimana
ditetapkan dalam ampiran II harus dilakukan di daerah yang ditetapkan di
Lampiran II tersebut.
Ayat (2)
Huruf a
Fasilitas pengurangan
penghasilan neto diberikan selama 6 (enam) tahun terhitung sejak tahun
dimulainya produksi komersial, yaitu setiap tahunnya sebesar 5% (lima persen)
dari jumlah investasi berupa perolehan aktiva tetap berwujud termasuk tanah
untuk kegiatan utama usaha.
Fasilitas ini sifatnya mengurangi penghasilan
neto (dalam hal mendapat keuntungan usaha) atau menambah kerugian fiskal (dalam
hal mendapat kerugian usaha).
Contoh :
PT ABC melakukan penanaman
modal sebesar Rp. 100.000.000.000,00 berupa pembelian aktiva tetap berupa tanah,
bangunan dan mesin. Terhadap PT ABC dapat diberikan fasilitas pengurangan
penghasilan neto (investment allowance) sebesar 5% x Rp 100.000.000.000,-
= Rp 5.000.000.000,- setiap tahunnya, selama 6 (enam) tahun yang dimulai sejak
tahun pemberian fasilitas.
Huruf b
Fasilitas penyusutan dan amortisasi
yang dipercepat diberikan untuk aktiva tetap yang diperoleh yang digunakan dalam
rangka penanaman modal.
Huruf c
Misalnya investor dari negara X
memperoleh dividen dari Wajib Pajak badan dalam negeri yang telah ditetapkan
untuk memperoleh fasilitas berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Apabila
investor X tersebut bertempat kedudukan di negara yang belum memiliki
Persetujuan Penghindar Pajak Berganda (P3B) dengan Pemerintah Republik Indonsia,
atau bertempat kedudukan di negara yang telah memiliki P3B dengan Pemerintah
Republik Indonesia dengan tarif pajak dividen untuk Wajib Pajak Luar Negeri 10%
(sepuluh persen). Namun apabila investor X tersebut bertempat kedudukan di suatu
negara yang telah memiliki P3B dengan Pemerintah Republik Indonesia dengan tarif
pajak dividen tersebut dikenakan Pajak Penghasilan di Indonesia sesuai dengan
tarif yang diatur dalam P3B tersebut.
Huruf d
Kerugian fiskal yang
dapat dikompensaikan dengan keuntungan dalam 5 (lima) tahun berikutnya sesuai
ketentuan Pasal 6 ayat (2) Undang-undang Pajak Penghasilan, dalam rangka
penanaman modal yang diberikan fasilitas kompensasi kerugian fiskal yang lebih
lama yakni dalam hal dipenuhinya persyaratan / kriteria sebagai berikut :
|
|
1.
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila penanaman modal pada bidang
usaha yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan di kawasan industri
dan kawasan berikat;
|
|
|
2.
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila memperkerjakan
sekurang-kurangnya 500 (lima ratus) orang tenaga kerja Indonesia selama 5 (lima)
tahun berturut-turut. Tenaga Kerja Indonesia adalah tenaga kerja pada semua
tingkat;
|
|
|
3.
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila melakukan
investasi/pengeluaran untuk infrastruktur ekonomi dan sosial di lokasi usaha
paling sedikit sebesar Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh milyar
rupiah);
|
|
|
4.
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila dalam rentang waktu 5 (lima)
tahun pajak, mengeluarkan biaya penelitian dan pengembangan yang dilakukan di
dalam negeri dalam rangka pengembangan produk atau efisiensi produksi paling
sedikit 5% (lima persen) dari jumlah investasi.
|
|
|
5.
|
tambahan 1 tahun
|
:
|
apabila menggunakan bahan baku dan
atau komponen hasil produksi dalam negeri paling sedikit 70% (tujuh puluh
persen) sejak tahun ke 4 (empat).
|
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal
3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup
jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup
jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup
jelas.
TAMBAHAN LEMBAR NEGARA REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 4675
| |
LAMPIRAN
I
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA |
| |
NOMOR |
: |
1 TAHUN
2007 |
| |
TANGGAL |
: |
2 JANUARI
2007 |
BIDANG USAHA
TERTENTU
| No. |
BIDANG USAHA |
KBLI
(KLASIFIKASI BIDANG LAPANGAN USAHA INDONESIA) |
CAKUPAN PRODUK |
| 1. |
Kelompok Industri Makanan Lainnya
Industri Bumbu Masak dan Penyedap Masakan
|
15497 |
Industri Penyedap Masakan Kimia
Lainnya
(Khusus yang menghasilkan nucleotide (IMP, GMP) dan menggunakan
proses bioteknologi dengan bahan baku dari hasil
pertanian)
|
| 2. |
Kelompok
Industri Tekstil dan Industri Pakaian Jadi : |
|
|
|
| a. |
Industri Persiapan
Serat Tekstil |
17111 |
- |
Serat Rami Terintegrasi (Kapasitas minimal 2.000
ton/tahun benang rami) |
| |
- |
Serat Sutera Terintegrasi (Kapasitas minimal 2.000
ton/tahun benang sutera) |
| |
b. |
Industri Persiapan Serat Tekstil dan Industri Pemintalan
Benang dan Industri Perhutanan (kecuali Pertenunan Karung Goni dan Karung
Lainnya) |
17111 dan 17112 dan
17114 |
Industri Persiapan
Serat Tekstil Dan Industri Pertenunan Khusus ATM (Industri Tekstil
Terpadu)
(Minimal 1.000 Tenaga Kerja) |
| |
c. |
Industri Persiapan Serat Tekstil dan Industri Pemintalan
Benang dan Industri Pertenunan (Kecuali Pertenunan Karung Goni dan Karung
Lainnya) dan Industri Penyempurnaan Kain dan/atau Industri Pencetakan
Kain. |
17111 dan 17112
dan 17114 dan 17122 dan atau 17123 |
Industri Persiapan
Serat Tekstil Dan Industri Pemintalan Benang Dan Industri Pertenunan Khusus ATM
Dan Industri Penyempurnaan Kain Dan Atau Industri Pencetakan Kain (Industri
Tekstil Terpadu)
(Minimal 1.000 Tenaga Kerja) |
| |
d. |
Industri Persiapan Serat Tekstil dan Industri Pemintalan
Benang dan Industri Pertenunan (kecuali Pertenunan Karung Goni dan Karung
Lainnya) dan Industri Penyempurnaan Kain dan/atau Industri Pencetakan
Kain |
17111 dan 17112 dan
17114 dan 18101 |
Industri Persiapan
Serat Tekstil dan Pemintalan Benang dan Industri pertenunan khusus ATM dan
Industri Pakaian Jadi dari Tekstil dan Perlengkapannya (Industri Tekstil
Terpadu)
(Minimal 1.000 Tenaga Kerja) |
| |
e. |
Industri Pertenunan (Kecuali
Pertenunan Karung Goni dan Karung Lainnya) dan Industri Pakaian Jadi dari
Tekstil dan Perlengkapannya |
17114
dan 18101 |
Industri
Pertenunan Khusus ATM dan Industri Pakaian Jadi dari Tekstil dan Perlengkapannya
(Industri Tekstil Terpadu)
(Minimal 1.000 Tenaga
Kerja) |
| 3. |
Kelompok Industri
Bubur Kertas (Pulp), Kertas dan Kertas Karton/Paper Board |
|
|
| |
a. |
Industri Bubur Kertas (Pulp) |
21011 |
*)
(Terintegrasi
dengan HTI) |
| |
b. |
Industri Kertas Budaya |
21012 |
*)
(Terintegrasi
dengan Industri Bubur Kertas) |
| |
c. |
Industri Kertas Industri |
21015 |
*)
(Terintegrasi
dengan Industri Bubur Kertas) |
| 4. |
Kelompok Industri
Bahan Kimia Industri |
|
|
|
| |
a. |
Industri Kimia Dasar Anorganik Khlor dan Alkali |
24111 |
- |
Industri Garam Industri (Kadar NaCl Minimal
96%) |
| |
|
|
|
- |
Natrium Carbonat (Na2CO3) |
| |
b. |
Industri Kimia Dasar Anorganik Lainnya |
24114 |
- |
White Carbon |
| |
c. |
Industri Kimia Dasar Organik yang bersumber dari Hasil
Pertanian |
24115 |
- |
Industri Oleokimian (Industri Turunan Fatty Acied, Fatty
Alcohol dan Glycerin) |
| |
|
|
|
- |
Industri Bioenergi (Industri Biodiesel, Bioolil, dan
Bioetanol anhidrat) |
| |
d. |
Industri Kimia Dasar Organik yang Bersumber dari Minyak
Bumi, Gas Bumi dan Batubara |
24117 |
- |
Ethylene, Propylene dan Butadiene serta yang terintegrasi
dengan turunannya |
| |
|
|
|
- |
Benzene, Xylene dan Toluene serta yang terintegrasi dengan
turunannya |
| |
|
|
|
- |
Ammonia yang terintgrasi dengan Amonium Nitrate atau Asam
Nitrate |
| |
|
|
|
- |
Caprolactam |
| |
e. |
Industri Kimia Dasar Organik Lainnya |
24119 |
Modified Diethanol
Amine (MDEA) |
| |
f. |
Industri Karet
Buatan |
24132 |
Karet
Teknis Buatan |
| 5. |
Kelompok Industri
Barang-Barang Kimia Lainnya |
|
|
| |
Industri Bahan
Farmasi |
24231 |
- |
Senyawa Derivat Statin |
| |
|
|
- |
Para Amino Fenol |
| |
|
|
- |
Sefalosporin |
| |
|
|
- |
Rifampisin |
| |
|
|
- |
Kloramfenicol dan Derivatnya |
| |
|
|
- |
Amoksisilin |
| |
|
|
- |
Ampisilin |
| |
|
|
- |
Vitamin B1 |
| |
|
|
- |
Vitamin C |
| |
|
|
- |
Bahan Baku Farmasi yang
diperoleh dengan proses biotekhnologi |
| 6. |
Kelompok
Industri Kaaret dan Barang dari Karet |
|
-
|
|
| |
Industri
Barang-Barang dari Karet untuk Keperluan Industri |
25192 |
*)
|
|
| 7. |
Kelompok
Industri Barang-Barang dari Porselin |
|
|
|
| |
Industri
Alat Laboratorium dan Alat Listrik/Teknik dari porselin |
26203 |
*)
|
|
| 8. |
Kelompok
Industri Logam Dasar Besi dan Baja |
|
|
|
| |
a. |
Industri Besi dan Baja Dasar
(Iron and Steel Making) |
27101 |
Industri Pellet Bijih
Besih (Pengolahan Bijih Besi) |
| |
b. |
Industri Besi dan Baja Dasr (Iron and Steel Making) s/d
Industri Penggilingan Baja (Steel Rolling) |
27101 s/d
27102 |
Industri Pembuatan
Besi dan Baja dalam Bentuk Dasar sampai Penggilingan Baja (Industri Baja
Terintegrasi Proses Kontinyu)
(Proses kontinyu mulai dari
: |
| |
|
|
|
- |
Steel making sampai dengan produk lembaran
(plate/sheet) |
| |
|
|
|
- |
Steel makin sampai dengan produk
batangan (steel bar/wire rod) |
| 9. |
Kelompok
Industri Logam Dasar Bukan Besi |
|
|
|
| |
a. |
Industri Pembuatan Logam Dasar
Bukan Besi |
27201 |
Industri Ingot
Alumunium (Alumunium Smelting) |
| |
b. |
Industri Penggilingan Logam Bukan Besi |
27202 |
Industri Pelat
Tembaga, Sheet (Lembaran) Tembaga, Industri Kawat Logam (Wire
Tembaga) |
| |
c. |
Industri Ekstruksi Logam Bukan Besi |
27203 |
Industri Ekstruksi
Tembaga dan Paduannya (rod)
(Kapasitas > 5.000
ton) |
| |
d. |
Industri Pipa dan Sambungan Pipa
dari Logam Bukan Besi dan Baja |
27204 |
Industri
Tube, Pipa dari Tembaga dan Paduannya
(Kapasitas > 10.000
ton) |
| 10. |
Kelompok Industri
Mesin dan Perlengkapannya |
|
|
| |
a. |
Industri Mesin Uap, Turbin dan Kincir |
29111 |
Industri Turbin uap,
Turbin Gas |
| |
b. |
Industri Motor Pembakaran Dalam |
29112 |
Industri Motor Diesel
(Industri Motor Diesel Stationer dengan daya > 100 HP) |
| |
c. |
Industri Pompa dan Kompresor |
29120 |
- |
Industri pompa air (Pompa cairan Kimia) |
| |
|
|
|
- |
Industri kompresor udara dan gas (Industri kompresor angin
dengan daya > 10 HP) |
| |
d. |
Industri Mesin/Peralatan untuk Pengolahan/Pengerjaan
Logam |
29221 |
Industri Mesin
Perkakas pengerjaan logam |
| |
e. |
Industri Mesin Tekstil |
29263 |
Industri Mesin
Tekstil |
| |
f. |
Industri Mesin-Mesin Industri
Khusus Lainnya |
29299 |
Injection
Moulding Machine |
| 11. |
Kelompok Industri
Motor Listrik, Generator, dan Transformator |
|
|
| |
a. |
Industri Motor Listrik |
31101 |
Industri Motor
Listrik, dengan daya > 375 KW |
| |
b. |
Industri Mesin Pembangkit
Listrik |
31102 |
Industri
Generator Listrik, dengan daya > 375 KVA |
| 12. |
Kelompok Industri
Elektronika dan Telematika |
|
|
| |
a.
|
Industri Mesin
Kantor, Komputasi dan Akuntansi Elektronik |
30003 |
Flash Disk,
MP3, MP4, Mpeg/Digital Player, peralatan kedokteran digital (MRI), printer jenis
laser jet dan desk jet |
| |
b.
|
Industri Lampu Tabung
Gas (Lampu Pembuang Listrik) |
31502 |
Lampu Hemat
Energi (LHE) terintegrasi dengan komponennya |
| |
c.
|
Industri Tabung dan
Katup Elektronik serta komponen elektronik lainnya. |
32100 |
Assesoris
untuk MP3 dan MP4, CRT untuk TV berwarna Flat, LCD, Plasma, Integrated Circuit
(IC), Mother Board, Smart Card, Compressor untuk AC dan Kulkas, Motor unuk alat
listrik rumah tangga |
| |
d. |
Industri alat
transmisi dan alat komunikasi |
32200 |
*) |
| |
e. |
Industri radio,
televisi, alat-alat rekaman suara dan gambar, dan sejenisnya |
32300 |
TV LCD, TV
Plasma, HD TV, CCTV, Rear Projection, High DVD, Confrence system, Audio
Amplifier |
| |
f. |
Industri kamera
Fotografi |
33203 |
*) |
| |
g. |
Industri Jasa
Konsultasi piranti lunak |
72200 |
*) |
| 13. |
Kelompok Industri Alat
Angkut Darat |
|
|
| |
a. |
Industri
Mesin/Peralatan untuk Pengolahan/Pengerjaan Logam |
29221 |
Mould dan
Dies, Jig dan Fixture |
| |
b. |
Industri kendaraan
bermotor roda empat atau lebih |
34100 |
*) |
| |
c. |
Industri
perlengkapan dan komponen kendaraan bermotor roda empat atau lebih |
34300 |
| - |
Engine dan engine
part
(Keseluruhan engine secara utuh termasuk komponennya antara lain :
Karburator dan bagiannya, Cylinder Block, Cylinder Liner, Cylinder Head, dan
Head Cover, Piston, Ring Piston, dan Crank Case, Crank Shaft, Connecting rod,
dll) |
| - |
Brake system, system,
Axle&propeller Sharft, Transmission/Clutch System, Steering
gear |
| - |
Injector, Water Pump, Oil
Pump, Fuel Pump |
| - |
Forging component, Die
casting component, Stamping Part |
|
| |
d.
|
Industri Komponen dan
Perlengkapan Sepeda Motor dan sejenisnya |
35912 |
| - |
Engine dan Engine
Part |
| - |
Die casting component,
Brake system |
| - |
Transmission
system |
|
| 14. |
Kelompok Industri
Pembuatan dan Perbaikan Kapal dan Perahu |
|
|
| |
a. |
Industri Kapal/Perahu |
35111 |
Kapal di atas 50.000
DWT |
| |
b. |
Industri peralaan dan
perlengkapan kapal |
35112 |
*) |
|
| 15. |
Industri Pembuatan
Logam Dasar Bukan Besi |
27201 |
- |
Chemical Grade
Alumina |
| |
|
|
- |
Pemurnian Nikel secara Hidrometalurgi |
| |
|
|
- |
Pengolahan dan pemurnian timah hitam |
| |
|
|
- |
Pengolahan dan pemurnian
seng |
| Keterangan : |
*) |
Semua bidang usaha yang
termasuk dalam KBLI yang bersangkutan. |
Sailnan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA
RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan
Industri,
ttd.
M. SAPTA MURTI, SH., MA, MKn
|
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG
YUDHOYONO
|
| |
LAMPIRAN
II
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA |
| |
NOMOR |
: |
1 TAHUN
2007 |
| |
TANGGAL |
: |
2 JANUARI
2007 |
BIDANG USAHA TERTENTU DAN DAERAH
TERTENTU
| NO |
BIDANG USAHA |
KBLI |
CAKUPAN PRODUK |
DAERAH/PROVINSI |
| 1. |
Kelompok
Industri Pengolahan Makanan |
15121 |
*) |
Maluku,
Maluku Utara, Papua, Irian Jaya Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo |
| 2. |
Kelompok
Industri Pengolahan SDA berbasis Agro |
|
|
|
| |
a. |
Industri minyak goreng dari
minyak kelapa |
15143 |
*)
(Harus terintegrasi usaha budidaya) |
Sulawesi
Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat,
Gorontalo |
| |
b. |
Industri berbagai macam tepung dari padi-padian,
biji-bijian, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan sejenisnya |
15322 |
Tepung dari
jagung
(Harus terintegrasi usaha budidaya) |
Sulawesi Utara,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat,
Gorontalo |
| |
c. |
Industri gula pasir |
15421 |
Gula pasir dari
tebu
(Kapasitas minimal 70.000 ton gula/tahun, terintegrasi usaha
budidaya |
Di luar
Jawa |
| |
d. |
Industri gula lainnya |
15423 |
Gula dari ubi
kayu
(Harus terintegrasi usaha budi daya) |
Di luar
Jawa |
| |
e. |
Industri Persiapan Serat
Tekstil |
17111 |
Serat
Kapas
(Harus terintegrasi usaha budidaya minimal 500 ha) |
Sulawesi
Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat,
Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur |
| 3. |
Kelompok
Industri Kemasan dan Kotak dari Kertas dan Karton
Industri kemasan dan kotak
dari kertas dan karton |
21020 |
*) |
Di luar
Jawa |
| 4. |
Kelompok
Industri Barang dari Plastik
Industri Kemasan dari Plastik |
25205 |
*) |
Di luar
Jawa |
| 5. |
Kelompok
Industri Semen, Kapur, dan Gips
Industri Semen |
26411 |
*) |
Papua,
Irian Jaya Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara
Barat |
| 6. |
Kelompok
Industri Furnitur |
|
|
|
| |
a. |
Industri Furnitur dari kayu |
36101 |
*) |
Di luar
Jawa |
| |
b. |
Industri Furnitur dari rotan,
dan atau bambu |
36102 |
*) |
Di luar
Jawa |
| 7. |
Penangkapan Ikan di
Laut dan Pengolahannya (Usaha Terpadu) |
05011 dan 15121 s/d 15129 |
- |
Tuna |
Provinsi
yang berbatasan dengan Samudera Hindia : |
| |
- |
Pengalengan |
- |
Cakalang |
- |
Nanggroe Aceh
Darussalam; |
| |
- |
Penggaraman/Pengeringan |
- |
Hiu/Cucut |
- |
Sumatera Utara; |
| |
- |
Pengasapan |
- |
Layur |
- |
Sumatera Barat; |
| |
- |
Pembekuan |
|
- |
Tenggiri |
- |
Bengkulu; |
| |
- |
Pemindangan |
|
- |
Lumuru |
- |
Lampung; |
| |
- |
Pengolahan/Pengawetan lainnya |
|
- |
Bawal |
- |
Banten; |
| |
|
|
|
- |
Kakap Merah |
- |
Jawa Barat; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Jawa Tengah; |
| |
|
|
|
|
|
- |
DI Yogyakarta; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Jawa Timur; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Bali; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Nusa Tenggara Barat; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Nusa Tenggara Timur; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Maluku; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Papua. |
| 8. |
Penangkapan Crustacea
Laut dan Pengolahannya (Usaha Terpadu) |
05012 dan 15121 s/d 15129 |
- |
Udang |
Provinsi yang
berbatasan dengan Samudera Hindia : |
| |
- |
Pengalengan |
- |
Kepiting |
- |
Nanggroe Aceh Darussalam; |
| |
- |
Penggaraman/Pengeringan |
- |
Lobster |
- |
Sumatera Utara; |
| |
- |
Pengasapan |
- |
Rajungan |
- |
Bengkulu; |
| |
- |
Pembekuan |
|
|
|
- |
Lampung; |
| |
- |
Pemindangan |
|
|
|
- |
Banten; |
| |
- |
Pengolahan/Pengawetan lainnya |
|
|
|
- |
Jawa Barat; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Jawa Tengah; |
| |
|
|
|
|
|
- |
DI Yogyakarta; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Jawa Timur; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Bali; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Nusa Tenggara Barat; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Nusa Tenggara Timur; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Maluku; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Papua. |
| |
Penangkapan Mollusca
Laut dan Pengolahannya (Usaha Terpadu) |
05013 dan 15121 s/d 15129 |
- |
Cumi |
Provinsi yang
berbatasan dengan Samudera Hindia : |
| |
- |
Pengalengan |
- |
Sotong |
- |
Nanggroe Aceh Darussalam; |
| |
- |
Pengasapan |
- |
Teripang |
- |
Sumatera Utara |
| |
- |
Pembekuan |
- |
Ubur-ubur |
- |
Sumatera Barat |
| |
- |
Pemindangan |
|
|
|
- |
Bengkulu; |
| |
- |
Pengolahan/Pengawetan lainnya |
|
|
|
- |
Lampung; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Banten; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Jawa Barat; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Jawa Tengah; |
| |
|
|
|
|
|
- |
DI Yogyakarta; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Jawa Timur; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Bali; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Nusa Tenggara Barat; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Nusa Tenggara Timur; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Maluku; |
| |
|
|
|
|
|
- |
Papua. |
| Keterangan : |
*) |
Semua bidang usaha yang
termasuk dalam KBLI yang bersangkutan. |
Sailnan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA
RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan
Industri,
ttd.
M. SAPTA MURTI, SH., MA, MKn
|
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG
YUDHOYONO
|
PERATURAN PEMERINTAH
NOMOR 1
TAHUN 2007
Dasar Pemikiran
-
Investasi langsung baik melalui
penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri meruakan salah satu
faktor penting dalam negeri merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan percepatan pembangunan untuk
bidang-bidang usaha tertentu dan atau daerah-daerah tertentu;
-
Untuk mendorong investasi tersebut
perlu diberikan Fasilitas Pajak Penghasilan sesuai dengan Pasal 31A
Undang-Undang Pajak Penghasilan;
Wajib Pajak Yang Berhak Mendapatkan
Fasilitas
-
Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang
berbentuk Perseroan Terbatas dan koperasi yang melakukan penanaman modal pada
bidang tertentu atau pada bidang tertentu dan daerah tertentu;
-
Yang dimaksud Penanaman modal adalah
investasi berupa aktiva tetap berwujud termasuk tanah yang digunakan untuk
kegiatan utama usaha, baik untuk penanaman modal baru maupun perluasan dari
usaha yang telah ada.
-
Bidang-bidang Usaha Tertentu adalah
bidang usaha di sektor kegiatan ekonomi yang mendapat prioritas tinggi dalam
skala nasional
-
Daerah-daerah Tertentu adalah daerah
yang secara ekonomis mempunyai potensi yang layak dikembangkan.
Fasilitas Pajak Penghasilan Yang
Diberikan
-
pengurangan penghasilan neto sebesar
30% (tiga puluh persen) dari jumlah Penanaman Modal, dibebankan selama 6 (enam)
tahun masing-masing sebesar 5% (lima persen) per tahun;
-
Penyusutan dan amortisasi
dipercepat;
-
pengenaan Pajak Penghasilan atas
dividen yang dibayarkan kepada Subjek Pajak luar negeri sebesar 10% (sepuluh
persen), atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak
Berganda yang berlaku; dan
-
kompensasi kerugian yang lebih lama
dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun dengan ketentuan
tertentu;
Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam
PP 1/2007
-
Menteri Keuangan menerbitkan
keputusan pemberian fasilitas Pajak Penghasilan setelah mempertimbangkan usulan
dari Kepala BKPM
-
Sebelum lewat 6 tahun sejak tanggal
pemberian fasilitas Wajib Pajak tidak boleh : (pasal 3)
-
Menggunakan aktiva tetap yang
mendapatkan fasilitas untuk tujuan selain yang diberikan fasilitas,
atau
-
Mengalihkan sebagian atau seluruhnya
aktiva tetap yang mendapatkan fasilitas kecuali aktiva tetap yang dialihkan
tersebut diganti dengan aktiva tetap baru.
Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam
PP 1/2007
-
Apabila Wajib Pajak yang telah
mendapatkan fasilitas tidak memenuhi ketentuan tersebut (dalam pasal 3), maka :
-
Fasilitas yang telah diberikan
berdasarkan Peraturan Pemerintah ini dicabut;
-
Terhadap Wajib Pajak yang
bersangkutan dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan yang berlaku, dan
-
Tidak dapat lagi diberikan fasilitas
berdasarkan peraturan pemerintah ini.
Pelaksanaan PP ini akan dievaluasi
dalam jangka waktu paling lama 1 tahun sejak ditetapkan.
Evaluasi dilakukan
oleh Tim Monitoring dan Evaluasi yang dibentuk dengan Keputusan Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian.
-
Wajib Pajak yang telah memperoleh
fasilitas perpajakan atas kegiatan usaha di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terapdu
(KAPET) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlakuan
Perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 147 Tahun 2000, maka atas kegiatan usaha
tersebut tidak lagi diberikan fasilitas perpajakan sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Pemerintah ini.
-
Ketentuan lebih lanjut yang
diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
-
Pada saat Peraturan Pemerintah ini
mulai berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor 148 Tahun 2000 tentang Fasilitas Pajak
Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu dan atau di
Daerah-daerah tertentu dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
-
Peraturan Pemerintah ini mulai
berlaku sejak tanggal 1 Januari 2007.
Tas Holiday 5 th vs Fasilitas PPh
berdasar PP 1/2007
Tax Holiday 5 th vx Fasilitas PPh
berdasar PP1/2007
| Tahun |
Penghasilan
netto |
PPh dengan Tas
Holiday |
PPh dengan PP
1/2007 |
| 2007 |
-20M |
0 |
0 |
| 2008 |
-15M |
0 |
0 |
| 2009 |
-5M |
0 |
0 |
| 2010 |
5M |
0 PPh Badan PPh 26
20% |
0 PPh Badan PPh 26
10% |
| 2011 |
15M |
0 PPh Badan PPh 26
20% |
0 PPh Badan PPh 26
10% |
| 2012 |
30M |
PPh Badan 30% PPh 26
20% |
PPh badan 0 PPh 26
10% |
Perbandingan Kompensasi
kerugian
| Tahun
Penghasilan Neto |
Tahun
Penghasian Netto PP 1/2007 |
Tax
Holiday |
PP
1/2007 |
| 2007 |
2007 |
-20M |
-25M |
| -20
M |
-25M |
|
|
| 2008 |
2008 |
-20M + (-15M) =
-35M |
-25M + (-20M) =
-45M |
| -15 |
-20M |
|
|
| 2009 |
2009 |
-20M + (-15M) + (-5M) = -
40M |
-25M + (-20M) + (-10M) + =
-55M |
| -5M |
-10M |
|
|
| 2010 |
2010 |
-15M + (-15M) + (-5) =
-35M |
-25M + (-20M) + (-10M) +
(0) = -55M |
| 5M |
0 |
|
|
| 2011 |
2011 |
0M + (-15M) + (-5M) =
-25M |
-15M + (-20M) + (-10M) +
(0) + = -45M |
| 15M |
10M |
|
|
| 2012 |
2012 |
0 |
0M + (-10M) + (-10M) + (0)
= -20M |
| 30M |
25M |
|
|
Tax Holiday 5 th vs Fasilitas PPh
berdasar PP 1/2007
-
Pada tahun 2012 PT X indo jika dengan
skema Tax holiday 5 th sudah mulai membayar pajak yaitu PPh Badan dengant arif
progresif s/d 30% karena total rugi yang dapat dikompensasikan untuk tahun 2012
sudah habis; untuk PPh 26 atas dividen yang dibayar ke Hongkong dikenakan tarif
20% sejak tahun 2010 jika X corp membayar dividen
-
Dengan PP 1/2007 pada tahun 2012 WP
belum membayar PPh badan; untuk PPh atas dividen yang dibayar ke luar negeri
dikenakan tarif 10%
Lampiran I
BIDANG USAHA TERTENTU
PP
148/2006
| NO. |
BIDANG
USAHA |
KBLI |
Cakupan
Produk |
|
1.
|
Kelompok Industri
Makanan Lainnya |
|
|
| |
Industri Bumbu Masak dan
Penyedap Masakan |
15497
|
Industri Penyedap Masakan
Kimia Lainnya
(Khusus yang menghasilkan nucleotide (IMP, GMP) dan
menggunakan proses bioteknologi dengan bahan baku dari hasil
pertanian |
|