|
KEPUTUSAN
DIREKTUR JENDERAL PAJAK
KEP-601/PJ/2001
Ditetapkan tanggal 11 September
2001
PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN DlREKTUR JENDERAL
PAJAK
NOMOR KEP-108/PJ.1/1996 TENTANG BENTUK FORMULIR
PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN
DlREKTUR
JENDERAL PAJAK,
| Menimbang |
: |
a. |
bahwa dengan
ditetapkannya beberapa peraturan perpajakan khususnya tentang Pajak Penghasilan
sebagai dasar pelaksanaan Undang-undang Nomor 7 Tahun
1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, dipandang perlu
menyempurnakan formulir-formulir yang diperlukan dalam melaksanakan administrasi
Pajak Penghasilan; |
| |
|
b. |
bahwa sebagian formulir yang diatur dalam
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-108/PJ.1/1996 tentang Formulir
Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan tidak dapat menampung identitas Wajib
Pajak dan informasi yang diperlukan; |
| |
|
c. |
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan b perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak
tentang Perubahan ketiga atas Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-108/PJ.1/1996 tentang bentuk Formulir
Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan; |
| Mengingat |
: |
1. |
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2262) sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3984); |
| |
|
2.
|
Undang-undang Nomor 7 Tahun
1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran negara republik Indonesia Tahun
1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263)
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor
127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985);
|
| |
|
3.
|
Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan Bagi
Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia, dan Para Pensiunan atas Penghasilan yang Dibebankan kepada Keuangan
Negara atau Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor
74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3577);
|
| |
|
4.
|
Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan
atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3580) Sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 1999 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 170, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3891);
|
| |
|
5.
|
Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1996 tentang pembayaran Pajak Penghasilan
Atas Penghasilan Dari Persewaan Tanah Dan/Atau Bangunan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3636);
|
| |
|
6.
|
Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 131 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan atas Bunga
Deposito dan Tabungan serta Diskonto, Sertifikat Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 236, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4039);
|
| |
|
7.
|
Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 132 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan atas
Hadiah Undian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 237, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4040);
|
| |
|
8.
|
Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 139 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan atas
Penghasilan dari Obligasi yang Diperdagangkan di Bursa Efek (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 254, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4056);
|
| |
|
9.
|
Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 149 Tahun 2000 tentang Pemotongan Pajak Penghasilan
Pasal 21 atas Penghasilan Berupa Uang Pesagon, Uang Tebusan Pensiun, dan
Tunjangan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2000 Nomor 266, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4067);
|
| |
|
10.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 636/KMK.04/1994 tentang Pengenaan Pajak
Penghasilan Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota ABRI dan Para
Pensiunan atas Penghasilan yang Dibebankan Kepada Keuangan Negara atau Keuangan
Daerah;
|
| |
|
11.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
394/KMK.04/1996 tentang Pelaksanaan Pembayaran dan
Pemotongan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau
Bangunan;
|
| |
|
12.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 416/KMK.04/1996 tentang Norma Penghitungan
Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran Dalam Negeri;
|
| |
|
13.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 417/KMK.04/1996 tentang Norma Penghitungan
Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran dan/atau
Penerbangan Luar Negeri;
|
| |
|
14.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 475/KMK.04/1996 tentang Norma Penghitungan
Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan Penerbangan Dalam
Negeri;
|
| |
|
15.
|
Keputusan
Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 282/KMK.04/1997 tentang Pelaksanaan Pemungutan Pajak
Penghasilan atas penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek;
|
| |
|
16.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 450/KMK.04/1997 tentang Penunjukan Pemungut Pajak
Penghasilan Pasal 22 Sifat dan Besarnya serta Tata Cara Penyetoran dan
Pelaporannya sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor: 444/KMK.04/1999;
|
| |
|
17.
|
Keputusan
Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 552/KMK.04/1998 tentang Batas Bunga
Simpanan Anggota Koperasi yang Tidak Dipotong Pajak Penghasilan;
|
| |
|
18.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 566/KMK.04/199 tentang Tata Cara Pembayaran Pajak Penghasilan atas
Penghasilan yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Badan yang Usaha Pokoknya
Melakukan Transaksi Penjualan atau Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan;
|
| |
|
19.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 522/KMK.04/2000 tentang Penghitungan
Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan yang Harus Dibayar
Sendiri oleh Wajib Pajak Baru Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan Usaha
Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Wajib Pajak Lainnya Termasuk Wajib
Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu;
|
| |
|
20.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 558/KMK.04/2000 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Pemotongan Pajak Penghasilan, atas Penghasilan dari Obligasi yang
Diperdagangkan di Bursa Efek;
|
| |
|
21.
|
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 51/KMK.04/2001 Pemotongan Pajak Penghasilan
atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia;
|
| |
|
22.
|
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-108/PJ.1/1996 tentang Formulir
Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Keputusan Direktur JenderaI Pajak Nomor KEP-506/PJ/2001;
|
| |
|
23.
|
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-417/PJ/2001 tentang Petunjuk Pemungutan PPh Pasal
22, Sifat dan Besarnya Pungutan, serta Tata Cara Penyetoran dan Pelaporannya.
|
|
MEMUTUSKAN:
|
| Menetapkan |
: |
KEPUTUSAN
DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS KEP-108/PJ.1/1996 TENTANG BENTUK FORMULIR
PEMOTONGAN/ PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN.
|
PasaI I
Petunjuk Pengisian Formulir
Surat Pemberitahuan Masa PPh PasaI 22 dengan kode formulir F.1.1.32.02 dalam
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-108/PJ/2000 tentang Bentuk Formulir
Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah beberapa kali
dengan:
- Keputusan
Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-02/PJ.1/2000;
- Keputusan
Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-506/PJ/2001;
Diubah menjadi sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran
Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.
Pasal II
Formulir Bukti Pemotongan PPh
Bunga Deposito/Tabungan, Diskonto SBI, Jasa Giro dengan kode formulir
F.l.1.33.10 sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor
KEP-108/PJ.1/1996 tentang Bentuk Formulir
Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-506/PJ/2001 hanya digunakan untuk melayani
permintaan Wajib Pajak Dana Pensiun dan orang pribadi yang seluruh
penghasilannya dalam satu tahun pajak termasuk bunga dan diskonto tidak melebihi
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Pasal III
Keputusan Direktur Jenderal
Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya,
memerintahkan pengumuman Keputusan Direktur JenderaI Pajak ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 11 September 2001
DIREKTUR JENDERAL,
HADI
POERNOMO
NIP.060027375
|
|
Lembar
ke-1 untuk : Kantor Pelayanan Pajak
Lembar
ke-2 untuk : Pemungut Pajak
|
|
|
DEPARTEMEN
KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
|
|
|
|
Yth.
Kepala Kantor Pelayanan Pajak
|
|
|
|
|
|
###############.. (1)
|
|
|
Di
|
|
|
###############..
|
|
|
|
|
SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) MASA PAJAK
PENGHASILAN PASAL 22 |
|
|
|
|
A. Identitas Pemungut Pajak :
|
|
N
P W P
|
:
|
|
|
-
|
|
|
|
-
|
|
|
|
-
|
|
-
|
|
|
|
-
|
|
|
|
(2)
|
|
N
a m a
|
:
|
#####################################
|
|
A
l a m a t
|
:
|
#####################################
|
|
B. Pajak Penghasilan Pasal 22 yang telah
dipungut untuk masa pajak ################ (3) tahun #####.
(4)
dan telah disetor tanggal ############ (5)
adalah
sebagai berikut:
|
|
|
|
U
R A I A N
|
MAP/KJS
|
Nilai Obyek Pajak
(Rp)
|
Tarif
|
PPh yang dipungut
(Rp)
|
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
|
1.
Badan Usaha Industri/Eksportir #####.
|
0112/100
|
##########
|
##
|
##########
|
|
2.
Usaha Industri Rokok
|
0112/402
|
##########
|
##
|
##########
|
|
3.
Pembelian Barang Oleh Bendahara-wan/Badan Tertentu Yang Ditunjuk
|
0112/100
|
##########
|
##
|
##########
|
|
4.
Nilai Impor Bank Devisa/Ditjen Bea dan Cukai *)
|
|
|
|
|
|
a. API
|
0113/100
|
##########
|
##
|
##########
|
|
b. Non API
|
0113/100
|
##########
|
##
|
##########
|
|
5. Hasil Lelang (Ditjen Bea dan Cukai)
|
0112/100
|
##########
|
##
|
##########
|
|
6. Penjualan Migas Oleh Pertamina / Badan Usaha Selain Pertamina
|
|
|
|
|
|
a.
SPBU/Agen/Penyalur (Final)
|
0112/401
|
##########
|
|
##########
|
|
b. Pihak lain (Tidak Final)
|
0112/100
|
##########
|
|
##########
|
|
J U M
L A H
|
|
|
Terbilang
(6) ###################################################...
|
|
*) Coret yang tidak perlu
|
|
C.
Lampiran : (7)
|
|
( )
Daftar Surat Setoran Pajak PPh Pasal 22 (Khusus untuk Bank Devisa,
Bendaharawan/Badan Tertentu Yang Ditunjuk dan Pertamina/Badan Usaha Selain
Pertamina)
|
|
( )
Surat Setoran Pajak (SSP) yang disetor oleh Importir atau Pembeli Barang
sebanyak ######
lembar,
|
|
(Khusus untuk Bank Devisa,
Bendaharawan/Badan Tertentu Yang Ditunjuk dan Pertamina/Badan Usaha Selain
Pertamina),
|
|
( )
SSP yang disetor oleh Pemungut Pajak sebanyak ######. Lembar (Khusus
untuk Badan Usaha Industri/Eksportir Tertentu, Ditjen Bea dan Cukai),
|
|
( )
Surat Kuasa Khusus,
|
|
( )
Daftar Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 (Khusus untuk Badan Usaha
Industri/Eksportir Tertentu dan Ditjen Bea dan Cukai),
|
|
( )
Bukti Pemungutan PPh Pasal 22, (Khusus untuk Badan Usaha
Industri/Eksportir Tertentu dan Ditjen Bea dan Cukai),
|
|
( )
Dalam hal ada penjualan retur agar dilengkapi dengan lampiran rincian
penjualan dan retur penjualan,
|
|
( )
Risalah Lelang, dalam hal pelaksanaan lelang.
|
|
D.
Pernyataan :
|
|
Dengan
ini saya menyatakan bahwa pemberitahuan di atas adalah benar, lengkap dan tidak
bersyarat.
|
|
|
|
|
######.,
######### 20# (8)
|
|
|
Pemungut
Pajak / Kuasa (9)
|
|
|
Tanda
tangan, nama dan cap
|
|
|
|
|
|
#############. (10)
|
|
F.1.1.32.02
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
PETUNJUK
PENGISIAN FORMULIR
SPT MASA PPh PASAL 22
(F.1.1.32.02)
Umum
:
|
(1)
|
Diisi
dengan nama Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat Pemungut Pajak terdaftar.
|
|
(2)
|
Diisi
dengan identitas lengkap (NPWP, nama, dan alamat) Pemungut Pajak.
|
|
(3)
|
Diisi
dengan masa pajak dilakukannya pemungutan PPh Pasal 22. Dalam hal PPh Pasal 22
dipungut oleh Ditjen Bea dan Cukai, diisi dengan tanggal periode yang dilaporkan
(secara mingguan).
|
|
(4)
|
Diisi
dengan tahun dilakukannya pemungutan.
|
|
(5)
|
Diisi
dengan tanggal penyetoran pajak yang telah dipungut. Dalam hal penyetoran
dilakukan lebih dari satu kali, diisi dengan tanggal penyetoran terakhir.
|
|
(6)
|
Diisi
dengan jumlah Pajak Penghasilan Pasal 22 yang dipungut.
|
|
(7)
|
Diisi
dengan tanda X dalam ( ) sesuai yang
dilampirkan. Dalam hal SPT ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak, harap
dilampirkan Surat Kuasa Khusus bermaterai cukup.
|
|
(8)
|
Diisi
dengan tempat dan tanggal dibuatnya SPT.
|
|
(9)
|
Coret
yang tidak perlu.
|
|
(10)
|
Diisi
dengan tanda tangan, nama dan cap Pemungut Pajak atau Kuasa.
|
Khusus
:
SPT disampaikan oleh
pemungut pajak atas transaksi-transaksi yang terutang PPh Pasal 22 sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
|
|
Industri/Eksportir Tertentu &
Industri Rokok
|
Bendaharawan/Badan Tertentu
|
Bank Devisa/Ditjen Bea Cukai Impor
& Lelang
|
Pertamina/B.U. Selain
Pertamina
|
|
Penyetoran
|
Paling lambat tanggal
10 bulan takwim berikutnya
|
Pada hari yang sama
dengan pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang
|
Sehari setelah
pemungutan pajak dilakukan (khusus DJBC)
|
Sebelum Surat
Perintah Pengeluaran Barang ditebus
|
|
Pelaporan
|
Paling lambat 20 hari
setelah Masa Pajak berakhir
|
a. Bendaharawan
paling lambat 14 hari setelah Masa Pajak berakhir,
b. Badan Tertentu
paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
Secara mingguan
paling lambat 7 hari setelah batas waktu penyetoran pajak berakhir (DJBC)
Paling lambat 20 hari
setelah Masa Pajak berakhir (Bank Devisa)
|
Paling lambat 20 hari
setelah Masa Pajak berakhir
|
|
Kolom (1)
|
Diisi jenis usaha
industri semen/kertas/baja/otomotif atas penjualan hasil produksi di DN atau
pembelian bahan oleh industri/eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan,
perkebunan, pertanian, perikanan dan industri/eksportir tertentu lainnya sesuai
ketentuan yangberlaku.
Khusus industri
rokok, cukup jelas.
|
Cukup Jelas
|
Coret yang tidak
diperlukan
|
Cukup Jelas
|
|
Kolom (2)
|
Kode Mata Anggaran
Penerimaan (MAP)/Kode Jenis Pajak dan kode Jenis Setoran yang harus diisi pada
masing-masing Surat Setoran Pajak (SSP).
|
|
Kolom (3)
|
Diisi Jumlah
penjualan/pembelian Neto Dalam Negeri
|
Diisi Jumlah
Pembelian Barang, tidak termasuk PPN/PPnBM
|
Diisi Jumlah Nilai
Impor. (Cost, Insurance and Freight + Bea Masuk + Pungutan Lainnya yang
dikenakan berdasarkan ketentuan perundang-undangan pabean di bidang impor)
|
Diisi Jumlah Rupiah
Penjualan Migas sesuai dengan lampiran Daftar Surat Setoran Pajak.
|
|
Kolom (4)
|
Diisi dengan tarif
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
|
|
Kolom (5)
|
Diisi dengan PPh
Pasal 22 yang dipungut sebesar Tarif x Penjualan/Pembelian Bruto
|
Diisi dengan PPh yang
dipungut sebesar Tarif x Pembelian tidak termasuk PPN/PPnBM
|
Diisi dengan jumlah
PPh Pasal 22 atas impor yang dipungut sebesar Tarif x Nilai Impor.
|
Diisi dari jumlah PPh
Pasal 22 yang dipungut dari lampiran Daftar Surat Setoran Pajak.
|
|